TUNGGUL BANJARSARI:
KETIKA AIR MENJADI MATA UANG

Sebagai seorang pembuat film handal, Tunggul Banjaransari gemar mengamati sekitarnya. Karena sama seperti para pembuat film lain, kejadian yang terjadi di sekitarnya dengan imajinasinya menjadi karya luar biasa. Dalam film pendeknya kali ini, Tunggul akan mengangkat sebuah cerita tentang efek kekuasaan politik terhadap kelas-kelas tertentu. “Yang akan saya angkat kali ini adalah efek kekuasaan politik terhadap mereka yang dianggap kelas bawah.” Ucapnya dengan tegas dalam perbincangan Selasa lalu (9/8).

Saat ditanya apa yang menginspirasinya untuk mengangkat hal tersebut, Tunggul bercerita; “Aku benci banget dikuasai, tapi aku juga malas menguasai. Aku malas diatur-atur, tapi aku juga nggak bisa mengatur. Kadang aku kesulitan dalam mengambil keputusan. Nah, terus kemana lagi aku harus memendam kebencian itu? Aku mau mengatakan bahwa ada yang mencoba menguasai kita, salah satunya lewat film. Karena malas banget harus nyalon legislative biar bisa ngomong ke dewan. Mending ngomong ke mereka yang dianggap orang bawah aja.” Tegasnya lagi. Dalam film ini, Tunggul mau menyampaikan bahwa sampai kapanpun, manusia dan masyarakat sengaja dibuat nurut dengan siapa saja yang bisa komunikasi dan pintar mempengaruhi.

Dalam film ini pula, Tunggul akan bercerita tentang sebuah masa yang mendekati masa depan, dimana tidak ada lagi tanah yang subur untuk ditanami bahan makanan. Tanah yang biasanya menjadi sumber penghasilan masyarakat pula. Akibatnya, mereka harus menggantungkan diri pada sumber penghasilan lain, yaitu ternak kambing. Dalam filmnya pula, Tunggul menciptakan sebuah dunia dimana harga air minum begitu mahal karena sedikitnya persediaan air bersih.

Semua ide di atas akan dirangkum Tunggul dalam sebuah film fantasi berdurasi 18 menit. Dengan latar belakang apocalypse dan sentuhan khas seorang Tunggul Banjaransari, Black-comedy. Hasilnya, akan ditayangkan bersama 4 film pendek lainnya dalam Omnibus Prakarti. Jadi makin penasaran kan?